Dilan 1990 – 1991

Sebelumnya tidak ada niatan sama sekali untuk beli novel ini. Covernya anak SMA, sepertinya aku ketuaan. Tapi demi melihat biodata penulisnya yang mengatakan dia sebenarnya adalah imigran dari surga yang diselundupkan ayah ibunya ke dunia, aku jadi tertarik. Mungkin ayah ibunya termasuk tim sukses salah satu kontestan pilkada sehingga butuh menyelundupkan Pidi Baiq untuk mendapat tambahan suara. Hallah.

Novel ini terdiri dari 3 seri, “Dia Adalah Dilanku Tahun 1990”, “Dia Adalah Dilanku Tahun 1991”, dan “Milea, Suara dari Dilan”. Untuk novel yang ketiga aku belum baca, jadi cuma bisa ceritakan yang pertama dan kedua.

***

Tersebutlah di novel ini seorang gadis cantik bernama Milea, Milea Adnan Hussain. Dia adalah siswi baru pindahan dari Jakarta karena mengikuti ayahnya yang pindah tugas ke Bandung. Pagi itu, di hari-hari pertamanya sekolah, seorang siswa dengan berisik suara motornya menjajarinya ketika berjalan. Dia bilang, “Kamu Milea ya? Biar aku ramal. Hari ini kita akan bertemu di kantin.” Haha.. itu adalah cara yang aneh untuk berkenalan. Tapi itulah Dilan, sosok unik yang menjadi tokoh utama di novel ini.

Dilan, siswa kelas 2 salah satu SMA di Bandung, adalah sosok bandel, anggota geng motor, tapi cerdas dan menyenangkan. Pada seri pertama novel ini menceritakan tentang kekonyolan-kekonyolan yang dia lakukan untuk mendapatkan Milea. Aku sebut kekonyolan karena memang cara-cara PDKT yang dia lakukan begitu absurd dan tidak biasa.

Misalnya, selain cara perkenalan dengan ramalan tadi, Dilan mengirim surat ke Milea yang isinya mengundangnya untuk pergi sekolah mulai Senin sampai Sabtu, menitipkan cokelat pada tukang pos, tukang koran, tukang sayur, dan tukang-tukang lain yang lewat rumah Milea, mengirim surat ke tetangga Milea untuk menyampaikan bahwa Dilan menyukai Milea, serta mengirim kado ulang tahun berupa TTS yang sudah diisi semua. Alasannya biar Milea tidak perlu pusing memikirkannya. Absurd, romantis, dan tentu saja bikin Milea jatuh cinta.

Pada seri kedua novel ini, akhirnya Milea jadian sama Dilan. Ikrar bahwa mereka jadian dikukuhkan dalam surat bermaterai dengan Bi Eem sebagai saksi, serta pelanggan warung Bi Eem sebagai penerima syukurannya. Tapi ini bukan akhir dari kisah ini. Sebagaimana dikatakan Pidi Baiq, tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.

Akew, salah satu anggota geng motor Dilan meninggal karena dikeroyok orang tidak dikenal. Milea yang tahu Dilan akan melakukan pembalasan pergi menemui Dilan untuk melarangnya. Dia pergi ditemani Yugo, sepupunya yang lama tinggal di Belgia. Milea mengancam akan putus jika Dilan tetap melakukan pembalasan. Ancaman Milea bukan karena Milea sudah tidak sayang, tapi kuatir jika kejadian buruk menimpa Dilan sebagaimana terjadi pada Akew.

Bisa jadi karena Dilan tidak ingin mengingkari kesepakatan dengan teman-temannya untuk membalaskan kematian Akew, bisa jadi karena Dilan cemburu disebabkan Milea datang ditemani Yugo (nah, untuk yang ini jawabannya ada di novel ketiga) Dilan akhirnya tetap melakukan pembalasan. Dilan berakhir dipenjara bersama teman-temannya, meski akhirnya dibebaskan. Tapi hubungan antara dia dan Milea sebagai pacar, selesai.

Novel ini berdasarkan kisah nyata yang dituturkan oleh Milea (entah nama asli atau samaran) dan disajikan dengan begitu asyiknya oleh Pidi Baiq. Untuk kalian-kalian generasi yang udah lewat masa ABG-nya, membaca novel ini bisa membangkitkan berbagai memori seru di masa SMA. Minimal bikin keinget gebetan pertama lah ya, haha. Secara, umumnya dulu anak baru pacaran di masa SMA, gak kaya sekarang yang akselerasi kebablasan. Lihat kan postingan IG anak SD yang mesranya kaya gitu dan sering dijadikan bahan olok-olok buat jomblo kadaluarsa kaya kamu. Iya kamu, wkwk..!

Sudahlah, silakan dibaca novelnya. Jangan inget aku lho ya kalau habis baca. Engko garai aku keduten, haha. Prett!

(11 Posts)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *