Orang-Orang Proyek

Dokter : Sarapan?

Pasien : Enggak dok.

Dokter : Minum.. Teh, kopi?

Pasien : Enggak dok.

Dokter : Gak suka manis?

Pasien : Kalau cewek suka dok, cuma dianya yang gak suka saya. Hiks.., Plaakk..!!

Percakapan setengah imajinatif nan garing di atas terjadi 2 hari kemarin. Akhirnya dapat cuti kerja pertama di tahun 2017. Saya harus istirahat karena menurut bu dokternya, saya kecapekan dan kurang asupan gula. Di kertas resep tertulis “Berhenti mengejar yang tak pasti, mending besok bangun pagi, ikut CFD. Siapa tahu ketemu yang manis-manis, buat tambahan asupan gula.” Garing ya? Sudahlah!

Jadi selama 2 hari di kamar gak ada kerjaan,kesentuh juga itu novel “Orang-Orang Proyek” – nya Ahmad Tohari, yang sudah dibeli sejak bulan kapan. Ini novel pertamanya yang saya baca, meski sebelumnya sudah pernah nonton “Sang Penari”, film yang diadaptasi juga dari novelnya “Ronggeng Dukuh Paruk”.

Sebelum ngomongin isi novelnya, saya mau cerita dulu. Sebuah kisah yang saya dapat ketika masih kecil, umur-umur SD kalau gak salah. Begini ceritanya.

***

Alkisah, ada dua orang yang bersahabat dekat sejak kecil. Saking dekatnya mereka sepakat untuk saling berkunjung dalam kondisi apapun bahkan setelah mati sekalipun. Dan matilah akhirnya mereka. Yang satu masuk surga, yang satu masuk neraka.

Demi janji yang sudah mereka sepakati sejak masih di dunia, maka dua-duanya sama-sama ijin kepada malaikat untuk bisa saling mengunjungi. Tapi malaikat menolak, karena tidak ada fasilitas untuk saling berkunjung antara penghuni surga dan neraka. Hingga bertahun-tahun mereka tidak bisa bertemu sampai suatu hari pintu gerbang si penghuni surga diketuk. Begitu kagetnya dia karena yang berkunjung adalah temannya si penghuni neraka.

Si penghuni surga bertanya, “Bagaimana bisa kamu sampai ke sini?”

Si penghuni neraka menjawab, “Mudah saja, aku bangun jembatan. Kan aku dulu orang proyek.”

***

Ternyata kisah yang sama juga disebutkan Ahmad Tohari dalam novel ini, di halaman 2 sebelum terakhir meskipun dengan redaksi yang sedikit berbeda. Jadi satire tentang dunia proyek mungkin sudah sangat umum waktu itu. Sebagai bentuk sindiran kepada pemerintah yang dalam novel ini diistilahkan sebagai orde feodal baru.

Novel ini berkisah tentang sosok insinyur idealis yang memimpin proyek pembangunan jembatan sungai Cibawor.

Si insinyur yang bernama Kabul harus menghadapi dilema antara mempertahankan idealismenya membangun jembatan sesuai mutu dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan, atau menuruti keinginan pemilik proyek yang ditumpangi berbagai kepentingan politik partai penguasa.

Berbagai kerumitan dihadapi, mulai terbatasnya anggaran karena potongan sana-sini, penyediaan bahan baku yang tidak sesuai mutu, pemaksaan jadwal agar berbarengan dengan HUT partai, sampai permintaan sumbangan dari panitia masjid yang juga membebani. Semua dilakukan demi pencitraan partai penguasa, seolah semua hasil karya pembangunan adalah jasa mereka. Padahal dananya pun didapat dari hasil hutang dan sudah dikorupsi sana-sini. Rakyat sebagai penerima hasil akhir hanya mendapatkan bangunan ala kadarnya, itupun masih harus terbebani dengan hutang negara yang akan ditanggung anak cucu mereka.

Pada satu titik di mana Kabul sudah tidak dapat mempertahankan idealismenya tentang mutu bangunan yang dia kerjakan, dia memilih mengundurkan diri. Bukan keputusan yang mudah karena itupun masih dibarengi ancaman akan dicap sebagai warga yang tidak bersih lingkungan yang akan menyulitkannya untuk mendapatkan pekerjaan dan berbagai fasilitas negara lainnya.

Asyik novelnya, dan tentu saja bikin geregetan. Ahmad Tohari dengan piawainya menampilkan cerita yang seolah-olah kita alami sendiri. Tokoh yang ditampilkan pun begitu nyata, Pak Tarya yang bijak, Kades Basar yang serba salah, Mak Sumeh yang nyinyir tapi peka, Tante Ana yang mencari pengakuan jati diri, serta Kang Martasatang yang hanya bisa pasrah dengan segalanya. Masih ada satu lagi, Dalkijo. Atasan Kabul yang begitu picik dan pragmatis karena ingin balas dendam dengan masa kecilnya yang kesusahan. Semua tokoh begitu hidup seolah benar-benar ada dan mungkin pernah kita jumpai di dunia nyata.

So, novel ini recommended buat dibaca. Sebagai hiburan sekaligus pembelajaran. Keputusan Kabul untuk mempertahankan idealismenya merupakan pesan moral yang baik. Karena hidup itu selalu menawarkan pilihan, antara baik dan buruk, susah dan senang, terhormat atau nista. Meskipun kadang kita susah membedakan ketika semua terlihat abu-abu. Belum lagi godaan setan, tekanan kanan kiri. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selamat. Amiin.

Dan sebagai penutup, ingat SARAPAN!

Bukan cuma biar ada energi buat nyelesaiin kerjaan, tapi biar kuat juga ngadepi kenyataan. Gyahaha… Plaakk!!

Terima kasih.

(11 Posts)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *