Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Malam tadi aku melihat rembulan, setelah sesorean kotaku diguyur hujan. Malam nanti pun aku berencana kembali melihatnya, melihat indahnya rembulan setelah lebih dari sebulan hatiku juga banjir diguyur hujan. #hallah.

Novel Tere Liye kali ini bercerita tentang kilas balik kehidupan seorang konglomerat yang di setiap momen penat kehidupannya selalu kembali menatap rembulan. Entah apa alasannya bang Tere menggambarkan sosok konglomerat yang sudah kenyang pasang surut air laut (red: meminjam istilahmu, iya kamu..) tersebut menjadikan bulan sebagai sandaran kesedihannya. Bisa jadi bang Tere terinspirasi Bruno Mars yang suka curhat sama rembulan. Atau bisa jadi bang Tere sebenarnya ngefans sama dek Juwita, yang bergoyang-goyang unyu di rembulan setelah harinya menjadi ceria berkat EM Kaps***. Wkwk… becanda bang 🙂

Oke, seriusan sekarang.

Reyhan atau Ray, seorang konglomerat yang menjadi tokoh utama dalam novel ini terbaring sakit berbulan-bulan. Pada suatu malam dia terjaga dan mendapati dirinya bersama seseorang berwajah menyenangkan yang kemudian mengajaknya berkeliling lintas waktu, menjelajah masa lalu, menapaki setiap kejadian yang menjadi latar belakang 5 pertanyaan besar dalam hidupnya.

Malam takbir di sebuah panti asuhan, Ray dihukum berdiri di halaman, di bawah guyuran hujan, itupun setelah sebelumnya dipukuli. Penjaga pantinya adalah seorang tanpa belas kasihan yang juga mengekploitasi anak-anak asuhnya untuk mendapatkan uang sebagai tabungan haji. Dan Ray adalah seorang pembangkang yang muak dengan segala sikap munafiknya. Pertanyaan pertama, mengapa dia harus menghabiskan 16 tahun hidupnya di panti asuhan menyebalkan itu?.

Ilham mengerjakan lukisannya berbulan-bulan. Ketika bersiap mengikuti pameran, dia dihadang preman pasar dan dirusak lukisannya. Ray yang tidak terima, balik menghajar preman-preman tersebut. Yang tidak disadari Ray kemudian adalah para preman tersebut mengincar setiap penghuni rumah singgah sebagai bentuk balas dendam. Dan malang bagi Nathan yang harus bertemu mereka ketika berangkat mengikuti final audisi menyanyi. Dia dihajar habis-habisan sehingga menyebabkannya lumpuh dan rusak pita suaranya. Pertanyaan kedua, apakah hidup itu adil?. Mengapa langit begitu tega merenggut impian dari orang yang sudah bersungguh-sungguh menggapainya?.

Fitri, si gigi kelinci istrinya, meringis kesakitan. Ray buru-buru membawanya ke rumah sakit, khawatir terjadi apa-apa seperti kehamilannya yang pertama. Yang dikhawatirkan Ray ternyata lebih buruk, kali ini bukan hanya dia kehilangan calon bayinya tapi juga istrinya. Pertanyaan ketiga, lagi-lagi kenapa langit begitu tega, mengambil istrinya, satu-satunya kebahagiaan yang dia miliki setelah sekian tahun menderita?.

Ray menjadi konglomerat paling disegani. Kelihaiannya berbisnis, kemampuannya mengendalikan orang, serta keberuntungan yang selalu menyertainya membuat karirnya menanjak sampai batas tertinggi. Tapi ketika semua itu sudah dicapai, masih ada kekosongan yang dia rasakan. Pertanyaan keempat, atas semua capaiannya yang luar biasa, mengapa masih ada rasa hampa, kekosongan dalam hidup yang tidak mampu ia penuhi?.

Di usianya yang menginjak senja, Ray mulai sering sakit-sakitan. 2 minggu sehat, 2 bulan terkapar di rumah sakit. Pertanyaan kelima, mengapa langit seolah menghukumnya di penghujung usianya?. Padahal dia sudah berusaha melakukan yang terbaik, menjaga kesehatan, berbuat baik pada orang. Apa yang langit inginkan?.

Kelima pertanyaan Ray tersebut mendapatkan jawabannya dalam perjalanan metafisik lintas waktunya. Ditemani seseorang dengan wajah menyenangkan, Ray mendapatkan pemahaman atas semua kejadian yang dialaminya melalui sudut pandang yang lain. Sudut pandang yang membuatnya berdamai dengan masa lalu, sudut pandang yang membuatnya bersyukur atas semua takdir yang selama ini ia sesali. Bagaimana detail perjalanan dan sudut pandang baru yang Ray dapatkan, silakan baca sendiri novelnya. Kalau aku ceritakan semua, lak gak jadi beli novelnya kalian. 😀

Tapi begini, novel ini sebenarnya menyampaikan pesan yang berupa sindiran bagi tukang protes seperti saya. Kenapa hidup koq begini, kenapa hidup koq begitu?. Kenapa kamu lebih pilih dia daripada aku, hahaha. Yang terakhir itu dialog sinetron, abaikan!. Nah, tukang protes yang suka ngadu pakai dialog ala-ala sinetron tadi, seharusnya bisa melihat setiap kejadian secara utuh. Bahwa pasti ada sisi positif dari setiap kejadian yang menurut kita sekarang menyakitkan. Depresi, suntuk, marah-marah, bolehlah tapi sama tembok. Setelahnya segera berwudlu, shalat, mengaji. Masyaallah.. Subhanallah..!

Sudahlah, gitu deh pokoknya novelnya. Positif thinking, kontrol emosi. Biar bisa jadi manajer kamu entar. Jiahaha.. plak!

Selamat membaca!

(11 Posts)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *