Dia Cantik dan Dia Menyenangkan

“Aku sedang gak enak hati kucing, minggirlah atau ku tendang!”.

Itu kucing dan aku bicara padanya. Dia gak akan paham dan aku gak berharap dia untuk paham. Aku sudah berhenti mengharapkan orang untuk paham dan aku memaklumi jika kucing pun gagal paham.

***

Aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Dia berjarak 1 meter dariku dan dia berbicara dengan temanku.

Dia cantik dan dia menyenangkan. Aku hanya bertemu dengannya sekali dan aku bilang aku suka padanya. Dia tidak percaya bagaimana mungkin ada orang yang jatuh cinta hanya pada pandangan pertama. Aku tidak mengatakan bahwa aku mencintainya pada pandangan pertama. Aku menyukainya pada pandangan pertama tapi aku mencintainya setelah tahu sedikit latar belakangnya.

Dia cantik dan dia menyenangkan. Aku mengajaknya keluar suatu hari, untuk membeli es krim yang dia bilang akan membuatnya gendut tapi dia tetap menghabiskannya. Dia banyak bercerita dan aku mendengarkan semuanya. Ada sedikit kikuk ketika pandangan kami saling bertemu dan dia kemudian menundukkan wajahnya.

Dia cantik dan dia menyenangkan. Kami semakin sering ngobrol melalui wa. Setiap malam selepas selesai semua urusan. Dia mengolokku dan aku mengoloknya. Sepertinya kami punya selera humor yang sama.

Dia cantik dan dia menyenangkan. Temanku bertanya bagaimana hubunganku dengannya. Aku bilang bahwa kami dekat, tapi aku tidak tahu apa dia juga mencintaiku. Temanku bilang dia juga dekat dengan orang lain dan menyarankan aku untuk menanyakannya. Aku menanyakan padanya sebagaimana disarankan oleh temanku. Dia bilang memang dekat dengan seseorang tapi tidak pacaran. Aku berkesimpulan bahwa aku masih punya kesempatan.

Waktu berlalu dan dia masih tetap cantik dan menyenangkan. Aku menanyakan lagi padanya apakah dia juga mencintaiku. Dia bilang kita baru kenal sebentar. Menurutnya aku pun menyenangkan dan dia suka ngobrol denganku. Tapi dia tidak bisa bilang suka karena seperti katanya, kita baru kenal sebentar.

Aku gelisah dengan hubungan ini tapi dia begitu cantik dan menyenangkan. Aku tidak lagi menanyakan tentang perasaannya padaku. Aku mengajaknya ngobrol berbagai hal dan menyisipkan satu dua guyonan tentang perjodohan. Aku berkesimpulan bahwa dia tidak ada hati padaku dan mungkin akan lebih baik jika aku berhenti di sini.

***

Ini hari yang melelahkan di kantor dan ketika aku pulang aku mendapatimu di depan pintu kamarku. “Aku sedang gak enak hati kucing, minggirlah atau kutendang!”, kataku.

Aku tahu kamu gak akan paham sebagaimana tidak pahamnya dia betapa aku mencintainya. Atau mungkin sebenarnya dia paham hanya tidak enak hati untuk bilang bahwa dia tidak mencintaiku. Ah, sepertinya kemungkinan kedua yang lebih benar.

Akulah yang seharusnya paham bahwa dia tetap gadis cantik yang menyenangkan yang tidak mungkin menolakku dengan terus terang.

Pada akhirnya akupun berhenti mengharap orang lain untuk memahamiku. Akulah yang harusnya berusaha memahami mereka, termasuk kucing di depan kamarku yang mengharap sedikit lauk untuk mengisi perutnya. Sini kucing, aku tidak akan menendangmu. Kali ini mari kita makan bersama, bukan lagi aku yang menghabiskan dagingnya dan kamu cuma dapat sisanya.

Pokestop Mushalla Baitur Rahman, 23 Juli 2016.

(11 Posts)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *