Lush Life – Zara Larsson

Lush artinya “pemabuk”, Life artinya “hidup”. Kalau secara letterlijk judul lagu ini merupakan antitesis dari lagu bang haji “mirasantika”.

Pertama mendengar lagu ini di sebuah kafe di perbukitan belakang kampus UIN. Pas itu lagi pedekate sama seseorang yang akhirnya hanya berstatus gebetan tanpa pernah didapatkan. Uhukk. Tapi bukan itu yang mau aku omongkan, yang lain saja.

Jadi ceritanya kemarin aku service sepeda di bengkel. Karena bosen ndomblong gak ada yang dikerjakan, aku buka-buka folder mp3 di hape dan nemu lagu itu. Kaya flashback dahulu kala saat si doi begitu lancarnya menirukan lagu Inggris dengan irama cepat tersebut, jadi penasaran kaya gimana detail liriknya.

I live my day as if it was the last
Live my day as if there was no past
Doin’ it all night, all summer
Doin’ it the way I wanna

Went low, went high
What matters is now
Getting right back in the mood

Sekilas baca liriknya dapat gambaran kalau lagu ini bertema fun ala anak muda. Party sepanjang malam, hanya memikirkan hari ini tanpa peduli masa lalu, tanpa kuatir masa depan.

Terdengar biasa karena banyak lirik lagu bertema serupa. Tapi yang bikin penasaran adalah komentar dari salah seorang pengunjung yang mengatakan bahwa lirik lagu tersebut mempopulerkan budaya yang buruk. Dan beberapa orang mengamininya.

Maksudku begini, itu kan lagu barat, dinyanyikan orang barat, dengan latar belakang budaya barat. Tak pikir party sepanjang malam sepanjang musim panas adalah hal biasa di sana, tapi ternyata ada beberapa orang yang asli sana yang menganggap buruk budaya tersebut. Aku tidak tahu apakah memang ada perbedaan budaya antara Amerika (gambaran saya sebagai perwakilan budaya barat) dan Swedia. Secara sang penyanyi, si dedek Zara Maria Larsson, hometown-nya adalah Swedia.

Jadi untuk mengobati rasa penasaran itu, aku pikir aku perlu ke Swedia. Siapa tahu dapat beasiswa. Eeaaa.. ujung-ujungnya. Udah gitu aja.

(11 Posts)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *